Media Informasi Online | WartaBarkas
Wartawan Berita Akurat Ringkasan Kasus
Info: Edy Sutrisno
Jakarta, WartaBarkas - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyoroti sikap sebagian masyarakat yang memilih berada di luar barisan pembangunan, namun paling vokal dalam melontarkan kritik terhadap kerja pemerintah.
Dalam pernyataannya, Kepala Negara menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah hal yang baru dalam perjalanan bangsa. Jauh sebelum Indonesia merdeka, benih-benih perpecahan itu sudah ada.
"Sikap tidak mau bekerja sama, tapi paling keras bersuara, sudah muncul sejak zaman penjajahan. Ada sebagian yang justru membuka jalan bagi bangsa asing untuk menjajah negeri ini," Ujar Prabowo.
Akar Masalah: Iri, Sirik, dan Luka Batin Kolektif, Lebih jauh, Prabowo menyebut ada sisi manusiawi yang sulit dihindari: rasa iri, sirik, kebencian, dendam, hingga sakit hati. Menurutnya, emosi-emosi itu bisa tumbuh menjadi penghalang jika tidak dikelola dengan bijak.
"Bibit-bibit itu bagian dari manusia. Tapi bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menaklukkan egonya demi kepentingan yang lebih luas," Tegasnya.
Pesan untuk Indonesia Maju, Pernyataan ini menjadi pengingat: Demokrasi memang memberi ruang untuk mengkritik. Namun, kritik yang membangun lahir dari orang-orang yang ikut turun tangan, ikut berkeringat, dan ikut bertanggung jawab.
WartaBarkas memandang, di tengah tantangan zaman, Indonesia membutuhkan lebih banyak kolaborator daripada provokator. Lebih banyak solusi daripada sekadar penolakan.
Karena membangun negeri bukan tugas satu orang. Ia adalah kerja kolektif. Dan kerja kolektif dimulai dari niat baik untuk duduk bersama, bukan berdiri di seberang sambil melempar batu.
Catatan Redaksi WartaBarkas: Samsul Arifin | Jurnalis: Sutrisno