Foto: WartaBarkas | Info: Samsul Arifin
WartaBarkas - Surabaya, Nggak adil kalau nyalahin warga 100% soal rumah di pinggir sungai atau tanah irigasi. Masalahnya emang ruwet dan ada 2 sisi,
Sisi warga, seringnya bukan mau melanggar, Kepepet ekonomi, Lahan resmi mahal, KTP susah diurus, jadi nyari yang murah/meraban di bantaran sungai.
Minim info & pengawasan, Dulu diem-diem dibangun, nggak ada peringatan keras dari kelurahan/PU. Baru ribut pas mau normalisasi atau banjir.
Sejarah panjang, Ada yang udah nempatin 10-20 tahun, anak cucu lahir di situ. Ngusir aja tanpa solusi rasanya kejam.
Sisi Pemkot, aturan dan keselamatan memang harus dijaga
Bantaran sungai & irigasi itu zona larangan, UU SDA No. 17/2019 dan Perda jelas nyebut jarak bebas sungai minimal 10-15m. Tujuannya buat aliran air, akses normalisasi, dan nyelamatin nyawa pas banjir.
Risiko besar, Rumah di situ rawan longsor, banjir bandang, dan bikin aliran mampet. Korban akhirnya warga sendiri juga.
Aset negara, Tanah irigasi buat ngairi sawah ribuan hektar. Kalau dipake rumah, petani yang rugi.
Yang adil itu jalan tengah, Nggak nyalahin 100%, tapi juga nggak bisa dibiarin. Yang biasanya kerja, Data & verifikasi dulu, Mana yang okupasi baru, mana yang udah puluhan tahun.
Relokasi manusiawi, Kasih Rusunawa/rumah susun sewa murah + pendampingan kerja. Bukan gusur kosong. Penegakan ke depan, Stop izin liar, tegas sama calo tanah, dan sosialisasi batas sungai sejak awal.
Intinya, warga butuh tempat tinggal, negara butuh aliran air aman. Kalau cuma saling nyalahin, banjir dan konflik tetep dateng tiap tahun.