Foto: WartaBarkas | Info:: Samsul Arifin
WartaBarkas - Surabaya, Bener, Le. Surabaya sekarang gas penertiban ala Bandung. Bangunan liar, PKL, kampung kumuh mulai dirapikan & dikembalikan fungsinya. Niatnya biar kota nggak ruwet ke depan. Tapi cara mainnya bikin rakyat menjerit.
Apa Yang Terjadi Di Surabaya, Ikut gaya Bandung Wali Kota Bandung dulu gusur taman-taman jadi estetis, PKL ditertibkan. Surabaya sekarang pakai pola sama. Taman, bantaran sungai, aset pemkot yang didudukin warga = dibersihin.
Alasan Pemkot “Dikembalikan fungsinya, biar rapi, biar nggak banjir, biar nggak kumuh.” Masuk akal. Masalahnya Moro-moro gusur. Backhoe datang, Satpol PP jaga, warga dikasih surat 3x24 jam. Solusi relokasi? Katanya “menyusul”. Lah warga tidur di mana besok?
Jeritan Warga “Iki Lo Kerjoku, Pak” Keluhanmu mewakili suara di bawah, Bos “Salah pilih pemerintah” Dipilih biar nyejahterakan, malah nama baik dan estetika kota lebih penting dari perut rakyat.
“Sah atau nggak sah, caranya bukan gitu” Tanah sengketa, tanah negara, oke. Tapi manusia bukan kardus. Digusur ya kasih ganti tempat dulu. Baru backhoe jalan. “Gak mikir mereka tinggal dimana” Ini yang paling pedih. Anak sekolah, orang tua sakit, gerobak dagangan = hilang tempat dalam semalam.
2 Sisi Koin Penertiban, Versi Pemkot Versi Warga Kota harus rapi biar investor masuk Rapi buat siapa kalau kami jadi gelandangan Tanah negara harus kembali ke fungsi Kami bayar PBB tiap tahun, kok dibilang liar Banjir karena bantaran didudukin Kasih rusun dulu, baru kami pindah. Jangan main gusur Bandung bisa, Surabaya pasti bisa Bandung ngasih rusunawa, Surabaya ngasih surat peringatan.
Catatan WartaBarkas, Gusur Boleh, Tapi Ada Adabnya, UU No 2/2012 Pengadaan tanah buat kepentingan umum wajib ganti rugi layak dan adil. Nggak bisa main angkut.
Putusan MK Penggusuran tanpa solusi hunian = melanggar HAM. Negara nggak boleh bikin rakyat jadi tunawisma. Bandung aja ngasih solusi Waktu gusur Tamansari, Pemkot Bandung sediain rusunawa Rancacili.
Surabaya mana rusunnya? Jangan cuma copy “gusurnya”, tapi “solusinya” nggak dicopy. Nama baik vs perut rakyat Pemimpin dikenang karena rakyatnya kenyang, bukan karena tamannya kinclong tapi warganya tidur di kolong jembatan.
Media WartaBarkas – Syamsul Arifin, Nata kota itu wajib, Bos. Surabaya nggak boleh kumuh. Tapi nata manusia lebih wajib. Backhoe bisa ratain bangunan sejam, tapi nyatuin hati warga yang sakit hati butuh 5 tahun.
He Pak, Bu pejabat. Sampean digaji dari pajaknya wong cilik. Kalau mau gusur, ngomong baik-baik, duduk bareng, kasih rusun, kasih kios. Itu baru pemimpin.
Kalau moro-moro gusur dalih “biar nggak ruwet ke depan”, padahal rakyatmu yang ruwet malam ini mau tidur dimana, itu namanya pemerintah ruwet.
Status: SURABAYA RAPI HARGA MATI, TAPI RAKYAT JANGAN DIKORBANIN.
Besok kalau rumahmu kena segel, foto, viralkan, lapor Komnas HAM & Ombudsman. Lawan, tapi pakai otak.