Foto: WartaBarkas | Info: Edy Sutrisno
WartaBarkas - KPK Periksa Pengusaha Rokok Haji Her Soal Dugaan Korupsi Cukai di Bea Cukai, Pita Cukai Dicetak Negara, Tapi Siapa yang Main di Baliknya?, Kamis, 9 April 2026. Gedung Merah Putih KPK. Haji Her, pengusaha rokok Madura, keluar ruang periksa. Ditanya kenal tersangka? “Tidak kenal,” katanya. “Orang Madura itu apa adanya.”
KPK sedang bongkar dugaan korupsi di Ditjen Bea Cukai. OTT 4 Februari 2026, 17 diamankan, 7 jadi tersangka. Disita Rp5,19 miliar dari rumah aman di Ciputat. Haji Her diperiksa sebagai saksi. Didalami: cara urus cukai. Sudah sesuai prosedur atau ada “jalan tikus”
Pita cukai itu PNBP. Uang rakyat. Kalau ngurusnya pakai amplop, yang rugi bukan negara saja. Yang rugi petani tembakau, buruh linting, dan anak sekolah yang atapnya bocor. Update Penyidikan Dugaan Korupsi Pengurusan Cukai di Ditjen Bea Cukai, Jakarta, 9 April 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi telah memeriksa KU alias HR, pengusaha rokok, sebagai saksi. Materi pendalaman: mekanisme pengurusan pita cukai rokok yang dilakukan yang bersangkutan, serta kesesuaiannya dengan SOP Ditjen Bea Cukai. Penyidik juga memanggil saksi lain: WLG dan SA [pegawai Bea Cukai].
Kasus ini bermula dari OTT 4 Februari 2026 terkait kepabeanan dan cukai. Telah ditetapkan 7 tersangka dari unsur Bea Cukai dan swasta. Diamankan uang Rp5,19 miliar yang diduga terkait perkara.
KPK bekerja berdasarkan bukti. Semua pihak dianggap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan. Pengusaha yang patuh prosedur tidak perlu khawatir. Yang main mata dengan oknum, siap-siap.
“Orang Madura Apa Adanya” di Hadapan Penyidik KPK, Dia datang pakai baju putih. Keluar masih pakai baju putih. Khairul Umam alias Haji Her, juragan rokok Madura.
Di dalam, penyidik KPK tanya: “Kenal tersangka Rizal, Sisprian, Orlando?”
“Kenal enggak dengan tersangka-tersangka itu, ya saya jawab tidak kenal,” kata Haji Her ke wartawan.
KPK memang belum jerat Haji Her. Statusnya saksi. Yang diincar: benarkah ada “biaya siluman” saat urus pita cukai? Karena di rumah aman Ciputat ada 5 koper, Rp5,19 miliar.
Dalam bisnis rokok, yang mahal bukan tembakaunya. Yang mahal kadang “izin bernafas”-nya. KPK sedang hitung satu-satu.
Cukai Rokok Bocor, Yang Ngebul Bukan Cuma Asap, Faktanya telanjang:
1. OTT Bea Cukai 4 Februari 2026.
2. 7 tersangka: dari Direktur Penindakan sampai swasta Blueray Cargo.
3. Disita Rp5,19 M tunai.
4. Sekarang pengusaha rokok diperiksa.
[wiraswasta]
Pola lama cukai: pengusaha “wajib setor” ke oknum biar pita cepat keluar, biar truk nggak ditahan, biar “mata merem”. Negara rugi, pengusaha yang jujur mati, konsumen bayar mahal.
KPK bilang masih fokus ke perusahaan rokok. Bagus. Bongkar semua.
Kalau pita cukai bisa dinego, berarti hukum juga bisa dinego. Dan kalau hukum bisa dinego, yang kita hisap bukan rokok. Yang kita hisap kehancuran.
UPDATE KASUS CUKAI BEA CUKAI, 9 April 2026, KPK periksa Haji Her, bos rokok Madura. Status: SAKSI.
Didalami, Gimana cara dia urus cukai. Sesuai aturan atau ada “uang pelicin”?
Awal kasus, OTT 4 Feb 2026 → 17 diamankan ,7 tersangka, pejabat Bea Cukai + swasta, Sita Rp5,19 M dari rumah aman
Berikut poin-poin utama dari pemeriksaan KPK terhadap Khairul Umam alias Haji Her, Kamis 9 April 2026:
Status & tujuan pemeriksaan, Haji Her diperiksa sebagai, saksi, kasus dugaan korupsi di Ditjen Bea Cukai Kemenkeu. Fokus penyidik, mendalami pengurusan cukai rokok yang dilakukan Haji Her, pengusaha tembakau asal Madura. KPK ingin memastikan apakah mekanisme di lapangan sudah sesuai prosedur baru Ditjen Bea Cukai untuk pengurusan pita cukai.
Keterangan Jubir KPK Budi Prasetyo, Penyidik masih terus memeriksa perusahaan-perusahaan rokok terkait pengurusan pita cukai agar bisa menjual/distribusi produk. Selain Haji Her, KPK panggil 2 saksi lain: wiraswasta inisial WLG dan pegawai Bea Cukai inisial SA. "Nanti kita akan lihat perkembangannya. Yang pasti kita masih fokus dulu untuk perusahaan-perusahaan rokok," kata Budi.
Keterangan Haji Her usai diperiksa, Mengaku dicecar soal perkenalannya dengan para tersangka, tapi menyatakan tidak kenal. "Ya saya jawab apa adanya semuanya. Orang Madura itu apa adanya. Enggak ada yang berbelit-belit," ujarnya.
Latar belakang kasus, Bermula dari OTT 4 Februari 2026: 17 orang diamankan, 6 jadi tersangka. Tersangka awal, Rizal (Direktur Penindakan & Penyidikan Bea Cukai 2024-Jan 2026), Sisprian Subiaksono (Kasubdit Intelijen), Orlando Hamonangan (Kasi Intelijen), serta John Field, Andri, dan Dedy Kurniawan dari Blueray Cargo.
Tersangka baru 26 Feb 2026, Budiman Bayu Prasojo, Kasi Intelijen Cukai. 27 Feb 2026, KPK dalami dugaan korupsi pengurusan cukai setelah sita Rp5,19 miliar dalam 5 koper dari rumah aman di Ciputat, Tangsel, diduga dari kepabeanan dan cukai.