Foto: WartaBarkas | Info: Edy Sutrisno
WartaBarkas - Di tengah riuh perang narasi, Ibrahim Zol’faqari muncul bukan sekadar juru bicara, melainkan perwujudan paradoks: hati yang menghafal Al-Qur’an, pikiran yang menelaah filsafat Barat, dan lidah yang menguasai empat bahasa—Persia, Arab, Inggris, Ibrani. Di Markas Pusat Khatam al-Anbiyā’, ia menjembatani dua dunia: IRGC dan militer reguler, dengan nada tenang namun tajam.
Kemampuannya berbahasa Ibrani bukan sekadar teknis; ia memakainya untuk menyampaikan peringatan langsung, mengubah kata menjadi cermin bagi lawan. Video “You are Fired”—pinjaman dari Trump—menjadi contoh bagaimana ia membalikkan simbol budaya pop menjadi psy-ops yang menggelitik sekaligus menusuk.
Regenerasi cepat Iran setelah hilangnya tokoh-tokoh kunci menemukan wajahnya pada Zol’faqari: seorang poliglot berijazah Matematika dan PhD Filsafat Barat, membawa kebijaksanaan klasik ke medan komunikasi modern. Bagi analis, ia bukan hanya penyampai pesan, tapi kekuatan diplomatik—menggabungkan ketajaman militer dengan kejernihan filosofis, membuktikan bahwa dalam perang hari ini, kata kadang lebih berpengaruh daripada peluru.